Tampilkan postingan dengan label Selentingan Bagus. Tampilkan semua postingan

MENGERTI, WARAS  

Posted by vathan_t34r5 in

Aku masih tak mengerti
Dan tak akan pernah mengerti
Karena memang tak seharusnya
Aku mengerti

Siapa yang waras dan siapa yang tidak
Apakah aku yang tak waras?
Diantara milyaran manusia waras
Atau aku satu-satunya yang masih waras?
Bisa jadi…

Ya…paling tidak…..
Aku masih cukup waras untuk mempertanyakannya
Tapi ngomong-ngomong…
Apa sih waras itu???
Adakah manusia yang tahu…

Share/Save/Bookmark

LUPA  

Posted by vathan_t34r5 in

Kenapa dengan semua kehidupan
Atau dengan kematian
Bukankah kau diperintahkan untuk memikirkannya dengan perasaan
Akal, emosi, nafsu, cinta, benci atau apapun itu
Ya…..semua perasaan yang telah dianugerahkan
Cuma-cuma…

Meskipun lebih sering kau merasa itu milikmu sendiri
Kau lupa bahwa itu hanya pemberian
Cuma-Cuma…

Bahkan “lupa” itu juga merupakan salah satunya
Dan jangan lupa!!!
Kau juga dianugerahi “ingat”
Dan ingatlah bahwa kau pernah lupa
Maka ingatlah jika kau lupa
Ingatlah kau hanya manusia…
Biasa…



Share/Save/Bookmark

THINKING OUT OF THE MIRROR  

Posted by vathan_t34r5 in

Hmm...maksudnya apa ya??? Biasanya kan kita sering mendengar kalimat “Thinking out of the box” yang artinya kurang lebih adalah jangan terlalu terpaku pada aturan baku yang terkadang membuat kita “tidak kemana-mana”. Tapi yang satu ini agak berbeda kok... :D . Thinking out of the mirror atau bisa kita artikan secara harfiah Berpikir di luar cermin, maksudnya gimana lagi tuh???
Baiklah, kita mulai dari contoh atau permisalan sederhana dulu ya... Misalnya si-Tonce sedang “bermasalah” dengan si-Ance, berarti ada dua sisi yang sedang “bermasalah”, benar kan??. Jika kita misalkan lagi, Tonce sebagai orang yang sedang bercermin dan Ance adalah bayangan di cermin. Tonce merasa bahwa dirinya yang original, tapi apakah kita pernah tahu apa yang dipikirkan oleh sebuah bayangan?? Yak!! Sepertinya hampir semua orang merasa bahwa dirinya sendiri adalah yang original dan bayangan yang di cermin itu hanyalah duplikat diri kita. Nah! Itulah masalahnya, si-Tonce tidak pernah merasa dia adalah bayangan, dia adalah original, dia adalah sisi yang “benar” dan si Ance adalah bayangan serta berada di sisi yang salah. Eiitzz.... ternyata si-Ance juga merasa dialah yang original dan si-Tonce adalah bayangan. Nah???
Jika kita misalkan ketika kita sedang bermasalah dengan orang lain seperti kita sedang bercermin, maka seperti kebanyakan “kita” yang lebih sering memandang sesuatu hanya dari sisi kita sendiri dan hanya merasa “benar” sendiri, kita sangat jarang memandang sesuatu dari sisi yang satu lagi yaitu sisi lawan kita. Kita tidak pernah mencoba untuk berpikir menjadi “bayangan” kita, dan “bayangan” kita pun tidak pernah berpikir menjadi diri kita.
Baik, seperti biasa, agar lebih mudah dipahami saya buat seperti sebuah dialog tanya jawab saja, OK! Yang di sebelah kiri dan di dalam tanda “kutip” adalah pertanyaan dan kalimat selanjutnya adalah jawabannya.
“Kalau sudah begini (kasus di paragraf 3:red) kapan selesainya??”, Tentu tidak akan selesai.
“ Jadi bagaimana solusinya???”, Karena itulah makanya saya bilang berpikirlah di luar cemin.
“ Lho, saya kan lagi bercermin, berarti saya kan sedang berada di luar cermin dong??”, Hmmm....yang begini nih.....tambeng! (tidak bisa diberi tahu:red), coba baca lagi paragraf 2, kalau bayangan anda merasa sebagai dirinya original, berarti anda adalah bayangan yang di dalam cermin kan?? Berarti anda dan bayangan anda sama-sama di dalam cermin. Sudah mengerti?
“Oooh...begitu ya??” , Iya begitu.
“Jadi maksud berpikir di luar cermin itu apa?”, Haduuh....lemot amat yak?? Maksudnya coba berpikir sebagai orang yang tidak berhubungan dengan cermin alias orang yang tidak berhubungan dengan masalah itu alias lagi sebagai pihak netral.
“Jadi harus ada pihak ketiga yang netral??”, Pihak ketiga yang netral itu dibutuhkan kalau anda tidak bisa berpikir di luar cermin, kalau anda sudah bisa tentu tidak dibutuhkan lagi, karena sudah tentu anda bisa menyelesaikan semua masalah dengan baik.
“Iya juga ya.... ada contoh lain ga biar saya lebih bisa paham?? Masih agak bingung nih!!”, contoh lain, coba anda bayangkan anda sedang nonton pertandingan catur, kira-kira lebih hebat siapa antara anda dan para pemain itu?
“Oooh...sepertinya saya deh yang lebih hebat...hehe...”, Iya, karena anda bisa melihat semua strategi di kedua pihak, berikut segala kelebihan dan kekurangannya.
“Begitu ya?? Yak!!! Sekarang saya sudah mengerti”, Nah, begitu yang saya maksud dengan berpikir di luar cermin.

Huffft....cape juga nulisnya...hehe....sepertinya sekian dulu postingannya, semoga bermanfaat bagi kita semua ya...maaf masih berantakan, maklum baru belajar nge-blog, jangan sungkan kalau ada yang mau memberi kritik dan saran silahkan tulis komentarnya.... :D



Share/Save/Bookmark

Remembering Tomorrow  

Posted by vathan_t34r5 in

03.00 p.m yang terlihat pada jam digital di pojok kanan PC pria bercelana pendek dan oblong putih yang tampak sangat serius menatap monitor. Entah apa yang dikerjakannya, tapi sepertinya dia benar-benar tenggelam bahkan mungkin hanya sesekali saja dia tampak menghisap rokok putih yang dibiarkan saja tergeletak di asbak.

“Hei Reno!! Aku duluan yah”, Tiba-tiba sebuah suara mengagetkannya.

“Oh, iya...duluan aja ngga..aku nyusul sebentar lagi deh, tanggung tinggal satu bait”, sahut Reno pada temannya Angga tanpa memindahkan pandangannya.

“Kayaknya serius banget puisinya nih? Hahaha....”, tanyanya, “Ok, I’m off!! Seeya tomorrow..” Lanjut angga sambil berlalu.

Reno masih diam tak menyahut lagi kata-kata Angga, dia kembali tenggelam dalam puisi yang sedang dibuatnya.

Tampak nyata atau sandiwara?

Sekedar ilusi atau benar rasa

Terkadang, seakan nyata tapi tak tercipta....

Lirih.....

Berbisik....hanya berbisik halus....

Cuma sekilas aroma yang melintas

Membelai...menyentuh ari...

Tapi menggambarkan satu hal jelas di otakku...

Takjub...

Sejurus kemudian sebuah dering handphone kembali menghentikan Reno, dia berdiri dan bergegas mengambilnya.

“iya,na..?”, suara Reno halus.

Kamu belum tidur?”, terdengar suara wanita di seberang sana.

“Belum, mungkin sebentar lagi”, Reno menjawab halus.

“Kamu kurang istirahat, nanti sakit lho?”, jawab suara itu dengan nada khawatir.

“Iya, sebentar lagi, aku janji, kamu ga usah khawatir ok?”, Reno menenangkan.

“Ok kalau gitu, aku mau tidur lagi deh, bye Ren...”, Suara itu menyahut.

“Bye....na...”, jawab Reno sembari menutup panggilan itu dan kembali ke puisinya.

“Huft...sampai dimana tadi???”, gumam Reno.

“Oh iya...lanjuuuuut!!”, Reno tampak senang, sepertinya dia menemukan kembali potongan yang tadi sempat hilang karena Angga yang pamit dan telepon dari Nana.

Keheningan yang mendamaikan tentunya

Mengingatkanku bahwa aku yang Engkau kasihi

Biarkan malam ini jadi milikku

Kupeluk hingga pagi menyambutku

Tersenyum....

Reno menyandarkan badannya di kursi sambil melamun, jemari tangan kirinya memutar-mutar rokok yang dari tadi dibiarkannya tergeletak. Reno menengadah, dia sedang berpikir, menerawang jauh menembus langit yang tak berbatas, sepertinya beban berat sedang menunggunya. Beberapa saat kemudian dia berdiri dan memutuskan menyimpan yang telah diketiknya. Lamunannya tak diizinkan untuk merusak hatinya. Dia teringat kata-kata Nana,

Mungkin ada benarnya juga aku harus istirahat”, dia berbicara sendiri.

Setelah menyimpan puisinya dan mematikan PC yang telah menemaninya dengan alunan piano dari Gonzalo Rubalcaba, dia bersiap-siap untuk beristirahat, mempersiapkan dirinya untuk aktivitas esok hari.


"Jangan sampai kesabaranku habis ya!!"  

Posted by vathan_t34r5 in

Biasanya kesabaran itu selalu berhubungan langsung dengan idealisme atau prinsip seseorang. Contoh, "saya tidak suka disebut gendut". Jadi ketika ada orang menyebut saya gendut, saya pasti tersinggung, dan ketika hal itu masih dilanjutkan maka saya akan marah. Kira-kira biasanya begitulah kejadiannya, ya kan??? Ada batas tertentu yang kadang membuat orang sangat emosi atau marah besar tergantung dari masing individu.

Banyak orang ketika marah mengatakan seperti ini, "jangan sampai kesabaranku habis ya!!". Terus terang saya agak kurang setuju dengan kalimat tersebut, karena menurut saya sebenarnya sabar adalah tak terbatas jika kita menyadarinya. Hanya tergantung kita sendiri untuk mengendalikannya. Itu berarti bahwa batas kesabaran yang kita sering sebutkan tadi di atas adalah sangat relatif dan dapat digeser kemanapun bahkan sampai pada limit tak hingga. Batas tersebut, jika kita renungkan kembali ternyata tidak ada dan yang membuat itu ada hanyalah karena ketidaktahuan kita tentang ketidakadaannya, sehingga kita mengada-ada bahwa hal tesebut adalah ada. Baik sampai di sini mungkin banyak yang agak bingung dengan apa yang saya tulis...

Saya lanjutkan, kita kembali ke contoh yang di atas, kira-kira apa yang menyebabkan si "gendut" ini marah?? Jika kita telaah lagi, bisa kita lihat bahwa si "gendut" ini tidak suka disebut gendut karena iri atau sebenarnya ingin seperti orang yang mengoloknya tadi, karena yang mengoloknya tadi berbadan tegap, atletis dan lain lain makanya si "gendut" marah. Saya yakin si "gendut" ini tidak akan marah jika yang mengolok-oloknya lebih gendut darinya. Benar kan? Jadi sekarang kira-kira dimana "batas" itu??

Sebenarnya, si "gendut" ini kurang bersyukur dengan apa yang telah dimilikinya. Jadi bisa disimpulkan bahwa orang yang pemarah adalah orang yang kurang bersyukur dan selalu merasa kurang. Semakin kita bersyukur, saya yakin kita akan makin sabar.

Kasus di atas masih terlalu kecil dan sangat simple. Bagimana jika kasusnya berhubungan dengan idealisme atau prinsip? Tentunya akan sangat rumit untuk menyelesaikannya, karena prinsip atau idealisme seseorang adalah salah satu bentuk egoisme yang tertinggi. Dan seringkali hal itulah yang menyebabkan benturan. Karena ketika egoisme (baca: idealisme dan prinsip) yang berbicara maka kemungkinan besar atau bisa saya jamin kita sudah lupa dengan bersyukur yang alhasil menyebabkan kita tidak sabar.Contoh, "Tapi orang tersebut sudah menyinggung prinsip saya!!! Saya tidak suka!!!" begitu kata beberapa orang. Dan orang yang menjadi lawannya akan mengatakan "Memang kamu siapa mau ngatur-ngatur hah?!!!". Bisa kita perhatikan hal di atas disebabkan oleh perbedaan prinsip.Baik saya lanjutkan dalam bentuk tanya jawab saja, yang miring adalah pertanyaan dan sisanya adalah jawabannya. OK!!

"Bagaimana menyelesaikan kasus di atas??". Kita semua tentu tahu bahwa harus ada yang mengalah alias mengorbankan prinsipnya, ya kan??

"Tapi bagaimana jika tidak ada yang mengalah??". Kita juga tahu tentu tidak akan ada penyelesaiannya.

"Jadi apakah berprinsip itu salah???" . Tentu tidak.

"Lho??". Kenapa lho?? Prinsip tentu bukan masalah selama tidak bersinggungan.

"Tapi kan pastinya prinsip-prinsip kta tentunya akan bersinggungan dengan prinsip orang lain?". Oooooh itu tergantung.

"Kok tergantung?? Memangnya mungkin prinsip kita tidak pernah bersinggungan???". Tentu mungkin, tidak ada yang tidak mungkin dalam hidup.

"Bagaimana caranya??". Kita rubah saja prinsip kita dengan prinsip yang tidak mungkin besinggungan.

"Apa itu??". Mulai sekarang ganti prinsip kita dengan prinsip "Saya adalah orang yang selalu bersyukur dan memiliki kesabaran tak terbatas" Saya jamin tidak akan ada yang bersinggungan dengan prinsip tersebut.

"Tapi apa mungkin tak terbatas??". Kan sudah saya tulis di atas, pasti bacanya buru-buru ya? Coba baca lagi contoh kasus si "gendut" dan cari kira-kira menurut anda dimana batasnya???

"Tapi kan belum tentu semua orang setuju??". Lho saya kan bukan berniat menggurui, saya hanya berbagi dan saling mengingatkan saja kok. Kalau mau setuju silahkan, kalau tidak setuju ya tidak apa-apa. Saya tidak akan marah karena saya berprinsip "Saya adalah orang yang selalu bersyukur dan memiliki kesabaran tak terbatas" dan saya selalu berusaha untuk memegang prinsip itu meskipun tidak 100% selalu berhasil. Saya juga kan cuma manusia biasa.

"Oooo begitu ya???". Iya....

"Tapi....". Jangan kebanyakan tapi, itu menunjukkan keraguan dan keraguan pasti merusak Anda. sebaiknya coba saja, saya jamin berhasil, toh Anda tidak akan rugi kok. Jika sampai Anda merasa rugi, coba cek lagi, pasti ada yang terlupa....Anda kurang bersyukur dan bla bla bla....(tidak perlu saya lanjutkan)




Share/Save/Bookmark